Revaluasi Aset Negara di Perbatasan Negara
Teringat kutipan
pidato Ibu Menteri Keuangan pada upacara hari Oeang ke 72 dimana Beliau merasa bangga
atas upaya Direktorat Jenderal Kekayaan Negara yang telah menyelesaikan
kegiatan penilaian kembali aset negara (revaluasi BMN) sehingga total nilai
Barang Milik Negara (BMN) s.d. 12 Oktober 2018 mencapai Rp5.728 triliun atau
mengalami kenaikan sebesar 272,42 persen dalam 10 tahun. Pencapaian tersebut
merupakan hasil jerih payah rekan-rekan KPKNL di seluruh Indonesia yang telah
berupaya secara optimal melakukan penilaian BMN pada seluruh
Kementerian/Lembaga.
Saya yang baru
saja kembali ke KPKNL Jakarta V setelah menyelesaikan tugas belajar turut dilibatkan untuk ikut
berkontribusi melakukan penilaian bersama rekan-rekan penilai lainnya. Untuk
tahun 2018 ini, KPKNL Jakarta V fokus menilai BMN pada Kementerian
Pertahanan/TNI. Namun demikian, walaupun hanya 1 kementerian tetapi sudah
menjadi rahasia umum bahwa Kementerian Pertahanan/TNI merupakan salah satu
kementerian dengan jumlah BMN terbesar.
BMN pada Kementerian
Pertahanan/TNI diantaranya terdiri dari Mabes TNI, TNI AD, TNI AU dan TNI AL
sehingga memiliki karakteristik yang berbeda dibanding dengan kementerian lain.
Sebagaimana diketahui bahwa untuk memasuki area milik TNI tidak dapat
sembarangan orang karena memang terkait dengan sistem pertahanan dan keamanan
negara, nah hal itu menjadi salah satu dari beberapa keistimewaan lainnya dari
pengalaman menilai aset TNI.
Pengalaman yang
paling berkesan adalah disaat mendapat tugas terakhir melakukan revaluasi BMN
sebelum saya pindah ke Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Tugas ini kalau
boleh jujur “dihindari” oleh sebagian besar rekan-rekan di KPKNL Jakarta V
karena asetnya yang perlu ditelusuri sampai ke remote area Indonesia (perbatasan di ekor pulau Kalimantan).
Menurut atasan saya, sudah diterima
saja dan anggap farewell dengan teman-teman di lapangan. Tugas yang challenging ini adalah menilai aset
Badan Intelijen Strategis TNI (Bais TNI), lembaga ini semacam unit intelijen
intern khusus dimiliki oleh TNI.
Sebagai unit
yang bertugas “rahasia” maka sebagian besar asetnya pun tidak memiliki plang
(papan nama) yang menunjukan BMN ini milik Bais TNI. Walaupun agak ragu karena
memang saat itu kondisi badan saya yang kurang sehat namun karena surat tugas
sudah diterbitkan maka Bismillah mari kita berangkat. Tim terdiri dari 3 orang
penilai KPKNL Jakarta V dan 1 orang pegawai dari Bais TNI.
Perjalanan di
mulai dengan penerbangan dari Soekarno-Hatta Jakarta menuju Pontianak pada pagi
hari dan tim sampai di Pontianak pada siang hari. Perjalanan tidak dapat langsung dilanjutkan ke lokasi karena secara hitung-hitungan
matematika waktunya tidak akan
terkejar karena mobil yang kita kendarai harus menumpangi kapal ferry untuk menyeberangi sungai sebanyak
2 kali dan kapal tersebut terbatas jam
pelayanannya. Kendaraan yang kami sewa pun tidak sembarangan yaitu double gardan karena medan yang akan
kami lalui cocok untuk shooting acara
“my trip my adventure”. Oleh karena
itu, kami memutuskan untuk bersilaturahmi ke rekan-rekan kami di KPKNL
Pontianak pada hari pertama sekaligus mencari info kondisi riil di lapangan
khususnya desa Temajuk yang menjadi target lokasi terjauh kami. Perjalanan dari
Pontianak ke Sambas kami lalui kurang lebih selama 7 jam. Kami memutuskan untuk
beristirahat sejenak di rumah makan di sekitaran terminal Sambas. Dikarenakan
kondisi badan yang memang kurang sehat sebelumnya, betul saja saya mengalami diare sepanjang perjalanan pada saat itu
sehingga hampir setiap kita berhenti di perjalanan maka saya tidak pernah lupa mencari kamar
kecil terdekat.
Perjalanan dari
Sambas kami lanjutkan ke Desa Temajuk yang perlu menyeberangi 2 sungai. Salah
satu semangat untuk melaksanakan tugas ini adalah karena menurut cerita
teman-teman di KPKNL Pontianak dan info dari mbah google bahwa Desa Temajuk memiliki potensi wisata yang luar
biasa bagi Kabupaten Sambas jika dikembangkan. Diantara kota Sambas menuju ke
Temajuk, kami menelurusi
jalan yang bernama Jl. Tanah Hitam dan benar saja jika melihat ke pinggir jalan tanahnya memang
dominan berwarna hitam. Jalanan tersebut ibarat jalanan tak berujung karena
sampai saya jenuh berganti-ganti posisi duduk tetap saja belum sampai ditujuan.
Satu lagi
pengalaman yang baru menurut kami adalah disaat mobil sewaan kami yang harus
menaiki kapal ferry untuk
menyeberangi 2 sungai yang sangat lebar sehingga terasa seperti menyeberangi
pantai. Pada saat itu saya berpikir mungkin ini maksud Pak Presiden Jokowi
untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur di Indonesia yaitu untuk
menyambungkan daerah-daerah yang memiliki akses kurang baik sehingga masyarakat
tidak perlu lagi mengantri dan membayar tiket kapal ferry untuk menyeberang dimana hal tersebut merugikan secara fisik,
biaya dan terutama waktu. Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang
terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote
memberikan kelebihan dan kekurangan tersendiri bagi Indonesia. Adapun kekurangan yang perlu
diperbaiki salah satunya yaitu adanya keterbatasan akses antar daerah sehingga
pembangunan infrastruktur menjadi suatu keniscayaan.
Kita akan
teringat dengan serial kartun upin upin sepanjang menelusuri Jalan Tanah Hitam
karena boleh dikatakan rumah-rumah panggung mereka ibarat gambaran riil dari
cerita tersebut, hal ini wajar saja karena memang mereka berjarak lebih dekat
dengan negara Malaysia dibanding dengan Kota Pontianak.
Setelah
penyeberangan sungai yang kedua, kami mulai memasuki daerah perbatasan dengan
kondisi jalan yang cukup sepi. Jalannya masih berupa jalan tanah liat yang dipinggirnya
ditumbuhi rumput ilalang.
Ditengah perjalanan tersebut terdapat 1 aset tanah yang mesti kami nilai dan
setelah tiba dilokasi aset, yang kami lakukan pertama kali adalah mencari patok
beton yang menjadi penanda dan saat itu telah tertutup rumput ilalang yang
cukup tinggi. Untuk hal ini, kami benar-benar memastikan bahwa tanah yang kami
nilai itu benar adanya karena harus ditentukan titik koordinat untuk menjamin
akuntabilitas laporan penilaian yang akan kami susun.
Setelah data
kami rasa cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju aset yang terakhir yaitu
di
Desa Temajuk. Kurang lebih 30 menit dari lokasi aset pertama tibalah kami di
tugu perbatasan Desa Temajuk Kabupaten Sambas yang berdiri tegap patung Bung
Karno yang mengarahkan jari telunjuknya ke arah negara Malaysia. Ini salah satu
hasil mengagumkan
dari
pembangunan infrastruktur yang mungkin hanya diketahui oleh sebagian kecil
masyarakat Indonesia. Kami berempat merasa bangga dengan tugu perbatasan RI yang dibangun kokoh di
daerah remote area oleh Badan
Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Setelah puas berfoto-foto mengabadikan
momen di tugu perbatasan yang mungkin menurut kami hanya terjadi sekali seumur
hidup, perjalanan kami lanjutkan di lokasi aset terakhir, tidak lebih dari 20 menit kami tiba
dilokasi yang saat itu sudah memasuki waktu shalat magrib.
Sesampainya di
lokasi, kami disambut oleh 3 orang pegawai dari Bais TNI yang bertugas sebagai
intel di perbatasan. Mereka terlihat sangat bahagia layaknya dikunjungi oleh
saudara atau keluarga mereka dari jauh. Penampilan mereka jauh dari kesan
tentara yang tinggi gagah bahkan kami kira sebelumnya mereka juga penduduk
setempat disana karena rambut mereka yang gondrong dan perawakan tubuh yang
tidak terlalu besar. Akhirnya aset yang selama ini kami bayangkan semenjak dari
Jakarta dapat kami lihat secara langsung. Ternyata tanah BMN tersebut merupakan hibah dari
penduduk yang ikut menyambut kedatangan kami pada saat itu, seorang bapak tua
yang tidak hanya murah senyum tetapi juga ikhlas menyumbangkan (hibah)
sebagian tanah yang dimilikinya untuk dipergunakan oleh negara. Satu hal lagi
yang membuat makin terkagum adalah bonus pemandangan landscape pantai dan penginapan di sana yang luar biasa cantiknya.
Sajian makan malam bersama yang hangat menutup kebersamaan kami pada malam itu
sebelum pada pagi harinya kami menyempatkan diri ke perbatasan yang dijaga oleh
rekan-rekan TNI yang ikhlas menjaga kedaulatan NKRI walau harus terpisah jauh
dari keluarga tercinta.
Perjalanan ini
mengajarkan bahwa kita tidak boleh takut untuk melangkah karena terjalnya jalan
yang akan kita lalui karena pada akhirnya kita akan mencapai target yang kita
inginkan. Perbatasan di Desa Temajuk ini merupakan salah
satu bukti akan kayanya negara Indonesia khususnya yang berasal dari potensi
kekayaan lautnya. Perjalanan yang cukup melelahkan ini worth it terbayar lunas dengan pemandangan tugu perbatasan dan landscape pantainya yang menurut saya merupakan potongan kecil dari
surga di dunia. Semoga hasil dari pelaksanaan revaluasi BMN oleh seluruh KPKNL akan berdampak manis bagi penyajian nilai aset untuk
negeri.



Comments
Post a Comment